Sabtu, 18 Desember 2021

Quotes Nora NH

 

Yang susah itu bagi manusia.Yang mudah itu bagi Allah saja.

Kehendak Allah tanpa kehendak manusia tetap sebagai kepastian. 

Kehendak manusia tanpa kehendak Allah hanyalah kemustahilan.

Agar sejalan, ikuti teori dan rumus dalam Islam. Insyaallah Allah perkenankan.

Rabu, 19 Mei 2021

Perbedaan istilah RADEN menurut KBBI vs Manuskrip

 Pun saya, selama ini dengan sekelumit pengetahuan yang saya punya dan sesempit pemahaman yang saya miliki, istilah "Raden" memiliki arti gelar bangsawan. Raden bermakna putra / putri seorang raja. Pemahaman itu merujuk pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). 

Namun ternyata, ada pendapat lain yang muncul dari K.H. Abdul Hannan, seorang ketua LP3SN (Lembaga Pencatat, Pemelihara, Penelitian Silsilah NAAT) yang dalam hal meneliti Istilah tersebut, beliau tidak sendirian, melainkan juga bekerjasama dengan para munsib yaitu ahli nasab setiap daerah di Indonesia. 

Setelah keliling Indonesia untuk menelaah beberapa manuskrip yang dimiliki para keturunan Wali Songo akhirnya beliau mengungkapkan bahwa "Raden" bukanlah gelar bangsawan (Keturunan Raja) akan tetapi lebih dekat dengan keturunan Ulama.

Sedangkan istilah Raden itu populer setelah zaman Wali Songo. Beliau merujuk pada manuskrip yang ternyata istilah yang ada di dalamnya adalah "Rahaddien" dan ada juga yang menyebutnya "Rois dien" yaitu pemimpin agama. Namun dalam manuskrip-manuskrip yang ditelaah sebutan untuk pemimpin agama itu menunggal pada istilah umara'.

Saya jadi ingat kata Dosen dulu sewaktu saya duduk anggun sambil menyimak di bangku kuliah S1, "Kitabnya bahasa Indonesia memang KBBI dan EYD, tapi keduanya yang menyusun adalah manusia, oleh sebab itu ada masanya KBBI dan EYD harus direvisi setelah ada penemuan-penemuan baru. Akan tetapi, selama belum ada pembaharuan secara resmi, ya ... kita tetap acuannya pada yang ada." Kurang lebih begitu isi kalimatnya.

Kemudian dari otak saya nyeletuk, "KBBI tidak sama dengan Al-Quran." Artinya tidak ada kebenaran yang mutlak di dunia ini selain wahyu. Rujukan apapun yang ada, sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan penemuan-penemuan yang dianggapnya lebih kuat, maka muncullah pendapat-pendapat baru.

Kebenaran yang ditemukan dan dicetuskan oleh manusia itu pasti ada masanya. Seiring zaman boleh jadi berubah, boleh jadi bertambah. Jadi tidak perlu terlalu fanatik terhadap perbedaan pendapat. Mana yang kau anggap lebih pas di hati dan pikiran, ikuti saja. Dan tidak perlu terlalu mengomentari iman atau keyakinan orang lain yang tidak selaras dengan keyakinanmu.

Pembahasan lebih detail tentang yang dikemukakan oleh yang mulia K.H. Abdul Mannan, silakan baca di link Radar Madura berikut!

👇

https://radarmadura.jawapos.com/read/2021/05/18/261908/tak-ada-di-manuskrip-raden-bukan-gelar-bangsawan

Jumat, 16 April 2021

PERANG SOSMED

 Tidak sedikit saya temui perbedaan pandangan dari beberapa orang terkait aplikasi TIKTOK. Ada yang sensitif dan fanatik sekali dengan aplikasi tersebut, ada juga yang justru sebaliknya. Memang, semua orang bebas berasumsi, termasuk saya pribadi tentu punya pandangan tersendiri.


Tidak jarang saya dengar, bahwa Tiktok itu tidak baik, tiktok itu merusak moral, dsb. alasannya di Tiktok banyak konten yang koget-joget, dll. Saya sepakat bahwa itu benar. Namun yang perlu digarisbawahi di sini, sebenarnya bukan Tiktok yang merusak moral, bukan Tiktok yang merusak akhlak. Keduanya bisa rusak manakala ilmu, pengetahuan, dan pengamalannya tidak seimbang. 


Saya jadi teringat dengan salah satu cerita Buya Hamka dari beberapa artikel yang pernah saya baca. Suatu ketika ada seseorang menemui Buya Hamka lalu terjadilah percakapan. 


Orang tersebut mengatakan,“Buya, ternyata pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab."

Kemudian Buya menjawab,

"Oh ya?" kata Buya, "Saya barusan dari Los Angeles dan New York," lanjut Buya Hamka, "Masyaallah, ternyata disana tidak ada pelacur." Pernyataan Buya jelas membuat orang itu tidak percaya.

“Ah mana mungkin Buya, di Mekkah saja ada kok. Apalagi di Amerika, pasti lebih banyak lagi,”kata orang tadi. 


Ternyata apa jawaban Buya?


"Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Meskipun kita ke Mekkah, kalau yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka Syaitan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk menemukannya," kata Buya dengan tegas.

“Sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi,” nasihatnya.


"Kalau hati kita sudah negatif, maka seringkali dipertemukan pada hal-hal yang negatif pula, kendati di tempat kebaikan sekalipun!

Camkan!" simpulnya.


Jadi, begitu juga dengan Tiktok, itu juga tergantung bagaimana yang mengaplikasikannya, kalau yang dicari adalah konten-konten positif, contoh misal konten dakwah, motivasi, dll. tentu yang muncul di fyp adalah yang kita ikuti. Semisal yang muncul konten yang tidak sesuai selera, ya tinggal lewati, namanya juga isi dunia pasti bermacam-macam adanya. "gitu aja kok repot!" Kata Gus Dur. Hehe


Sekarang, kita ini juga hidup di zaman sosmed, perkembangan teknologi tidak mungkin kita sangkal. Kalau pahlawan di masa lampau berperang dengan senjata tajam, sejata api, atau bambu runcing, zaman sekarang perangnya bersenjata teknologi. Tahu sendiri kan bagaimana buasnya sosmed? Siapapun bisa jadi korban.


Jadi, kalau sosmed (salah satunya Tiktok) diserang oleh kaum negatif dengan menyebarkan konten-konten kurang baik, misal. Maka harusnya kaum positif juga lebih gesit dan lebih banyak menyebarkan konten-konten positif. Karena nyatanya menurut beberapa pengamat, (tidak perlu saya sebut nama) viewer di YouTube dengan di Tiktok di tahun 2021 ini justru lebih meningkat Tiktok. 


So, mustinya yang menyadari itu jangan mundur dengan bersikap acuh tak acuh, malah justru hanya mengatakan tutup saja tiktoknya, blokir saja aplikasinya, padahal meski tidak ada Tiktok masih banyak aplikasi lain yang serupa, misal SnackVideo, dan entah apa itu lagi, lupa namanya.


Jadi, intinya satu. Mari gunakan teknologi dengan sebaik-baiknya. Boleh berasumsi, tapi jangan mudah menjustifikasi. Beragam pandangan boleh jadi, tapi jangan ada caci-maki. 


Coretan Malam

Nora NH.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Puisi terkoyak luka lama

TERKOYAK LUKA LAMA

Pagi ini, 
Suasana batin bak halilintar yang suaranya menggelegar membelah dunia
Pagi ini,
Luka kembali terkoyak oleh dunia lama
Iang sudah sekian lama ku kubur dalam-dalam sampai ke belahan bumi terpalung
Pagi ini, 
Ia menguak, meledak, membongkar ruang-ruangku
Hingga satu demi satu butir-butir kristal keluar dari ke dua belah sudut bintangku
Runtuh, berjatuhan, pecah menitik di pipi, di bibir, bahkan di dada
Sampai isak pun bergema berbanding lurus dengan kata-kata yang keluar dari lisan lembutku
Tragedi-tragedi itu kembali menyihir benakku
Membius jiwaku hingga ku tak sadar sudah berada di antara kolam-kolam air mata keluargaku
Siapa yang salah?dan
Siapa yang benar?
Tidak perlu dicari atau pun diteliti
Yang perlu adalahmasing-masih intropeksi diri dan perbaiki diri
Seharusnya.