Tidak sedikit saya temui perbedaan pandangan dari beberapa orang terkait aplikasi TIKTOK. Ada yang sensitif dan fanatik sekali dengan aplikasi tersebut, ada juga yang justru sebaliknya. Memang, semua orang bebas berasumsi, termasuk saya pribadi tentu punya pandangan tersendiri.
Tidak jarang saya dengar, bahwa Tiktok itu tidak baik, tiktok itu merusak moral, dsb. alasannya di Tiktok banyak konten yang koget-joget, dll. Saya sepakat bahwa itu benar. Namun yang perlu digarisbawahi di sini, sebenarnya bukan Tiktok yang merusak moral, bukan Tiktok yang merusak akhlak. Keduanya bisa rusak manakala ilmu, pengetahuan, dan pengamalannya tidak seimbang.
Saya jadi teringat dengan salah satu cerita Buya Hamka dari beberapa artikel yang pernah saya baca. Suatu ketika ada seseorang menemui Buya Hamka lalu terjadilah percakapan.
Orang tersebut mengatakan,“Buya, ternyata pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab."
Kemudian Buya menjawab,
"Oh ya?" kata Buya, "Saya barusan dari Los Angeles dan New York," lanjut Buya Hamka, "Masyaallah, ternyata disana tidak ada pelacur." Pernyataan Buya jelas membuat orang itu tidak percaya.
“Ah mana mungkin Buya, di Mekkah saja ada kok. Apalagi di Amerika, pasti lebih banyak lagi,”kata orang tadi.
Ternyata apa jawaban Buya?
"Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Meskipun kita ke Mekkah, kalau yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka Syaitan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk menemukannya," kata Buya dengan tegas.
“Sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi,” nasihatnya.
"Kalau hati kita sudah negatif, maka seringkali dipertemukan pada hal-hal yang negatif pula, kendati di tempat kebaikan sekalipun!
Camkan!" simpulnya.
Jadi, begitu juga dengan Tiktok, itu juga tergantung bagaimana yang mengaplikasikannya, kalau yang dicari adalah konten-konten positif, contoh misal konten dakwah, motivasi, dll. tentu yang muncul di fyp adalah yang kita ikuti. Semisal yang muncul konten yang tidak sesuai selera, ya tinggal lewati, namanya juga isi dunia pasti bermacam-macam adanya. "gitu aja kok repot!" Kata Gus Dur. Hehe
Sekarang, kita ini juga hidup di zaman sosmed, perkembangan teknologi tidak mungkin kita sangkal. Kalau pahlawan di masa lampau berperang dengan senjata tajam, sejata api, atau bambu runcing, zaman sekarang perangnya bersenjata teknologi. Tahu sendiri kan bagaimana buasnya sosmed? Siapapun bisa jadi korban.
Jadi, kalau sosmed (salah satunya Tiktok) diserang oleh kaum negatif dengan menyebarkan konten-konten kurang baik, misal. Maka harusnya kaum positif juga lebih gesit dan lebih banyak menyebarkan konten-konten positif. Karena nyatanya menurut beberapa pengamat, (tidak perlu saya sebut nama) viewer di YouTube dengan di Tiktok di tahun 2021 ini justru lebih meningkat Tiktok.
So, mustinya yang menyadari itu jangan mundur dengan bersikap acuh tak acuh, malah justru hanya mengatakan tutup saja tiktoknya, blokir saja aplikasinya, padahal meski tidak ada Tiktok masih banyak aplikasi lain yang serupa, misal SnackVideo, dan entah apa itu lagi, lupa namanya.
Jadi, intinya satu. Mari gunakan teknologi dengan sebaik-baiknya. Boleh berasumsi, tapi jangan mudah menjustifikasi. Beragam pandangan boleh jadi, tapi jangan ada caci-maki.
Coretan Malam
Nora NH.